12 September 2007

Delapan tahun lalu...


(harusnya tulisan ini diposting tanggal 8 September kemarin...)

Purwokerto, 8/9/1999
Jarum jam telah bergeser dari angka 12 tengah malam. Semua yang menemani Mama di klinik bersalin Arif telah terlelap. Hanya ibu mertua yang sesekali terjaga dan terlihat khawatir.
"Durung krasa juga ya,Pen? Padahal wis bukaan pitu ya. Biasane wis krasa mules."(Belum terasa juga ya Pen? Padahal sudah pembukaan tujuh ya, seharusnya sudah terasa mules?)
Mama cuma menggeleng ketika ibu terus menanyakan keadaan perut Mama yang tak kunjung menunjukkan reaksi sakit.
Ayah yang ada di Batam, sejak pagi juga terus menelpon dan menanyakan keadaan Mama. (Ayah memang tidak bisa pulang kala itu karena harus mempersiapkan segala sesuatu menjelang keberangkatan ke Jepang. Dan keputusan kami untuk melahirkan di Purwokerto dianggap tepat agar Mama banyak yang menjaga dan merawat usai melahirkan nanti.)
Tak lama kemudian, bu Arif, bidan senior di Purwokerto yang menjadi pemilik klinik bersalin ini masuk ke ruangan.
"Ayo mbak saya periksa lagi ya, siapa tahu pembukaannya sudah cukup untuk melahirkan,''kata bu Arif dengan halus dan menyejukkan. Mungkin inilah yang menjadi alasan seluruh keluarga besar di Purwokerto selalu memilih klinik ini sebagai tempat melahirkan.
"Wah...ini sudah pembukaan delapan. Sudah ya nggak usah jalan-jalan lagi, sebentar lagi bayinya keluar nih. Istirahat saja biar energinya disimpan untuk mengejan. Nanti kalau rasa sakitnya mulai terasa sering, panggil saya saja ya,"ujar bu Arif. Lagi-lagi dengan nada yang membuat Mama merasa tenang.
Benar saja, tidak lama setelah bu Arif keluar, Mama mulai merasakan sakit di perut bagian bawah. Lama-lama rasa sakit itu kian menjadi. Bercampur dengan rasa nyeri, mulas dan pedih. Ya Allha...tidak terkatakan betapa sakitnya ketika itu.
Ibu yang sejak tadi terlihat khawatir, semakin cemas melihat keadaan Mama.
"Nek arep nangis, nangis bae ya. Aja ditahan. Maca apa bae, istighfar, syahadat. Astaghfirullah hal 'adziiim...laa ilaha ilallah...,"(Kalau mau menangis, menangis saja ya. Jangan ditahan. Baca apa saja yang bisa istighfar, syahadat. Astaghfirullah hal 'adziiim...laa ilaha ilallah...,"kata Ibu yang terus terlihat cemas.
Bulik Bekti (keponakan sekaligus ipar Ibu) yang menemani sejak sore juga ikut terjaga.
Mama terus merasa sakit luar biasa selama hampir tiga jam. Sesekali ibu membaca ayat-ayat suci sambil mengelus-elus bagian punggung dan pinggang Mama dibantu Bulik Bekti.
"Bu Arif diundang bae ya. Katone wis lara banget kiye"(Bu Arif dipanggil saja ya, kayaknya sudah sakit sekali itu),"kata bulik Bekti.
Ibu hanya mengangguk sambil tetap mengusap-usap punggung Mama yang terus mengaduh kesakitan. Rupanya bu Arif sudah memperkirakan waktu kelahiran Mama. Sekitar pukul 05.00 WIB atau usai sholat Subuh, bu Arif mulai memberi aba-aba agar Mama mengejan sekuat tenaga.
"Nanti kalau saya bilang berhenti, mbak Peni jangan mengejan ya. Kalau saya bilang ayo, mengejan sekuat tenaga ya biar bayinya cepat keluar,"katanya lembut.
Mama hanya bisa mengangguk. Dan begitulah selama hampir duapuluh menit mengikuti arahan bu Arif sambil merasakan sakit yang teramat sangat, Mama melahirkan seorang anak perempuan dengan panjang 50 cm dan berat 3.1 kg. Alhamdulillah...
Kami memberinya nama Naomi Shofura Batuaji. Naomi yang diambil dari bahasa Jepang berarti cantik atau indah, Shofura adalah nama istri Nabi Musa AS yang dikenal dengan kesabaran dan kesholehannya. Sedangkan Batuaji, adalah nama sebuah kawasan di Batam, tempat kami menetap saat pertama kali tiba di pulau ini beberapa tahun lalu.
Kini Naomi, anak sulung kami, telah berumur delapan tahun. Selamat ulang tahun sayang. Cepat besar ya...nak. Tumbuhlah menjadi orang baik yang berguna bagi sesama dan agamamu. Besarlah menjadi orang yang tangguh menghadapi cobaan yang pasti akan datang menderamu. Jangan lupa doakan selalu orangtuamu agar selalu bahagia di dunia dan akhirat. Kami akan selalu menyayangi dan menjagamu...!(*)

08 September 2007

HP Ayah Hilang...!

Bukan bermaksud membuka aib, tapi kalau boleh jujur, salah satu kelemahan ayah yang kadang merugikan dirinya sendiri adalah teledor. Cuai kalau kata orang Melayu. Apalagi dengan benda-benda kecil seperti kunci kontak, name tag, pena, jam tangan, kacamata, flashdisc dan sebagainya. Benda yang terakhir disebut ini malah sempat dinyatakan hilang dan kemudian ditemukan di saku celana seragam ayah yang sudah dicuci di mesin dan disetrika!(Jelas rusak to ya...lha diubek-ubek dan diputer-puter ndak karuan gitu!). Dan itu tidak terjadi satu dua kali saja. Hampir tiap hari. But it's just a beginning karena beberapa hari lalu, ayah baru saja kehilangan barang kesukaannya: handphone!(Maklum didalamnya ada games favorit Ayah plus score tertinggi yang katanya pernah dicapai).
Entah bagaimana ceritanya benda yang selama ini jadi "urat nadi" kehidupan ayah itu bisa hilang. Raib. Lenyap. Ayahpun tampaknya tak ingin membahas terlalu dalam ketika Mama menanyakan mengapa HP itu bisa hilang.
"Bikin sedih,''kata ayah beralasan. Tapi masalah tidak berhenti di situ karena ayah harus mulai mengumpulkan nomor kontak semua teman, kenalan dan relasinya satu persatu. Ayah jelas tidak pernah mencatat nomor itu di agenda miliknya, apalagi menghapal di luar kepala. Tapi dibandingkan sekadar mengumpulkan nomor tersebut, hal lain yang sebenarnya membuat ayah "pusing" adalah mengurus lagi aktivasi nomor yang sudah dinyatakan hilang itu di Graha Telkomsel.
"Males...pasti antri dan repot,"ujar Ayah.
Tapi bagaimana lagi, ayah toh tetap harus mengurusnya agar nomor lama ayah bisa digunakan lagi. Dan ternyata dugaan ayah bahwa hal kecil itu akan merepotkan menjadi kenyataan. Ingin tahu kejadian seperti apa yang dialami ayah, berikut cuplikannya:

Ayah: Siang mbak...saya mau mengurus aktivasi kartu Halo saya yang hilang..bla..bla..bla..
Customer Service Telkomsel (CST): Baik pak, silahkan isi formulir berikut ini (sambil menyerahkan dua berkas formulir berisi data isian pribadi)
Ayah: (sudah males duluan melihat formulir. Tapi tetap diisi dan ...selesai!) Ini mbak..
CST: Ada foto kopi KTP pak?
Ayah: (membuka dompet dan menyerahkan fotokopi KTP yang sudah disiapkan)
CST : Rekening listrik dan air bulan terakhir pak?
Ayah: Lho..pakai syarat itu juga to? Kok saya nggak dikasih tau waktu telpon ke call centre semalam?
CST: Iya pak, prosedurnya memang demikian.
Ayah: Ok deh... menyusul bisa kan? Biar istri saya yang mengantar kesini nanti siang
CST: Nggak bisa pak, harus bapak sendiri. Tidak bisa diwakilkan
Ayah: (mulai dongkol dan banyak beristighfar dalam hati) Kan cuma mengantar rekening aja mbak masak nggak bisa sih?
CST: Iya pak karena nomor ini atas nama bapak
Ayah: Ok deh kalau memang berbelit-belit seperti itu, saya close aja lah nomor saya. Biar saya pindah ke operator lain saja.
CST:(buru-buru memberi klarifikasi) Bukan begitu pak, kami tidak bermaksud berbelit-belit tapi memang prosedurnya seperti itu. Tapi baiklah pak, rekeningnya bisa diantar istri bapak nggak apa-apa.
Ayah (mulai slow lagi) Nah gitu kan enak mbak, saya udah delapan tahun lho jadi pelanggan telkomsel, masak masalah kayak gitu aja dipersulit. Jadi... besok sudah bisa aktif lagi ya nomor saya?
CST: O..belum pak masih harus nunggu empat sampai satu minggu lagi!
Ayah: Seminggu lagi...? Lama sekali?
CST: Iya pak karena kami harus survey tempat tinggal bapak dulu.
Ayah:Loh kan dulu sudah! Disurvey lagi? Kan nggak pindah-pindah rumah saya?
CSt: Maaf pak, memang prosedurnya seperti itu.
Ayah( Rrrgggrh... @8//Aq0=*??x!!)=&6)T
***

Oalah prosedur...prosedur! Makhluk kayak apa sih kamu sampai bikin ayah dongkol kayak gitu? Andai saja bisa mengikuti gaya Gus Dur: Gitu aja kok repot, kan nggak perlu mumet-mumet to. Semua cepet beres...!

05 September 2007

Berita dari Langit itu Sungguh Tragis...


Berita dari langit atau berita yang "tiba-tiba" datang, biasanya kami sikapi dengan biasa saja. Tapi tidak kemarin malam! Seorang ibu membunuh dua putri kandungnya dan dia sendiri nekat gantung diri tapi berhasil di selamatkan! Dan itu terjadi di Batam!!! Berita tentang ibu yang membunuh anak kandungnya dan kemudian bunuh diri, memang bukan kali pertama ini menjadi berita utama di surat kabar tempat Mama bekerja. Tapi kali ini...peristiwa memilukan itu terjadi di kota ini! Ya Allah...
ES, sang ibu yang diduga mengalami depresi berat, nekat mencekik Vetty (13 tahun) putri sulungnya dan Nadine (1 tahun) si kecil yang sedang lucu-lucunya. Jangan heran jika para tetangganya yang tinggal di perumahan Nagajaya Batuaji Batam terisak dan ikut menangis ketika melihat jasad kecil bocah itu di bawa ke rumah sakit.
Sungguh...meski bagi kami "berita dari langit" terkadang membuat pekerjaan lebih mudah, tapi tidak kali ini. Ada kesedihan dan perasaan perih tersayat melihat dua bocah yang seharusnya menikmati masa kecilnya dengan bahagia, harus terenggut oleh ibu yang dulu melahirkan mereka ke dunia.
Tapi itulah yang terjadi! Tak pernah ada yang tahu apa yang sebenarnya ada di benak sang ibu hingga dia tega menghilangkan dua buah hatinya dengan tangannya sendiri. Termasuk sang ayah, FR, yang kini harus menjalani hidupnya dengan lebih berat.(*)

27 August 2007

Tujuhbelasan Kelabu...




Tujuhbelasan tahun ini benar-benar kelabu. Pertama, karena kamera di rumah tiba-tiba ngadat tak bisa dipakai. Baru sempat menjempret dua moment saja (Kakak lagi ikut lomba mewarnai di perumahan dan kereta hias adik Shaki untuk pawai) setelah itu...memory full! Padahal Mama lagi cuti dan tak bisa transfer di kantor dan kabel penghubung yang ada di komputer ayah hilang entah kemana. Jadilah Agustusan tahun ini tanpa foto-foto. Untung ada ayah Hain yang merekam moment spesial tersebut. Nanti bisa ngopi ya pak?
Kedua, sejak tiga hari sebelum tanggal 17, Batam diguyur hujan terus menerus. Makanya aneka lomba terpaksa molor digelar dan bahkan beberapa diantaranya dibatalkan karena cuaca yang tidak memungkinkan. Begitu juga hari H pawai kendaraan hias dan baju daerah yang jadi puncak acara sebelum malam tasyakuran warga. Padahal Mama bela-belain menghias sepeda kakak Naomi sampai jam 12 malam, ternyata dari pagi hujan besar disertai petir mengguyur Batam. Yang lebih parah lagi, anak-anak yang sudah jauh hari menyiapkan sepeda hias dan kostumnya tetap pada ngotot mau pawai. Oalah hujan je...le...nduk! Masuk angin nanti. Tapi karena sebagian orangtuanya juga kadung bersemangat menghias sepeda anaknya, pawai tetap juga dilaksanakan meski cuma sebentar dan berkeliling di satu blok saja. Tentu dengan hiasan dan kostum tambahan berupa payung dan jas hujan!
Untungnya pas malam tasyakuran, hujan benar-benar berhenti. Kami satu blok bisa saling bersilaturahmi. Berkumpul melihat pembagian hadiah aneka perlombaan, menikmati ikan dan ayam yang dibakar bersama-sama di lapangan sembari menyaksikan video perayaan Agustusan tahun lalu dan karaoke-an sampai tengah malam tanpa ada warga yang protes.Hmm..menyenangkan karena hujan tidak turun lagi!(*)

20 August 2007

Bike to Work...



Sejak bergabung di Mountain Bike (MTB) Batam Club, ayah kian rajin bersepeda. Hampir tiap event yang diadakan MTB Batam Club, ayah pasti ikut meski jarak yang harus ditempuh bisa mencapai 35 kilometer. Wah...
Terakhir pas memeriahkan HUT Kemerdekaan Indonesia, ayah dan teman-temannya ikutan Barelang Bike Tour 2007 dengan rute tempuh Jembatan Tengku Fisabilillah alias Jembatan Barelang 1 hingga pantai Melur yang berdekatan dengan Jembatan 6. Lumayan juga jaraknya!(lihat aja tuh foto ayah, terutama pas di tanjakan. Lemes banget kayaknya, bos!)
Usai ikut lomba nggak ada keluhan sakit pinggang atau kaki meski sudah menempuh jarak yang lumayan jauh dan naik turun. Sebelumnya waktu ikutan di Citra Mas dan latihan hingga ke Nongsa, ayah juga nggak mengeluh pegal-pegal. Mungkin karena happy dan lagi semangat, maklum masih baru (ha..ha..ha).
Tapi kata ayah, program MTB Batam Club lagi terus di up date. Nggak cuma sekadar acara jalan-jalan bersepeda thok, mereka malah punya impian merealisasikan program bike to work (B2W) di Batam. Yakni komunitas pekerja bersepeda seperti yang sudah marak di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bogor, Bandung dan Makasar. Cuma nih...di Batam, pada mau nggak ya? Secara Batam itu kan panas dan kontur jalannya yang berbukit naik turun. Belum lagi kalau hujan, petir dan banjirnya bikin orang takut di jalan raya. Tapi tentu aja ayah dan teman-temannya nggak akan menyerah begitu saja. Apalagi program B2W yang katanya di bulan ini dan September nanti dicanangkan sebagai Bulan Gelar Pekerja Bersepeda Nasional, memang membuat orang makin sehat dan rileks. Pastinya lagi sih jelas bebas macet, bebas BBM alias bisa irit, dan mengurangi polusi udara di kota Batam yang makin parah setiap harinya. Ya deh...kita dukung Ayah makin cinta bersepeda!

09 August 2007

"Bahagia" di Atas Sebuah Derita...

Seringkali peristiwa menyedihkan dan menyayat hati seperti bencana alam, kecelakaan pesawat, pembunuhan, perampokan ..yang terjadi secara tiba-tiba, justru menjadi kabar "bahagia" bagi pekerja pers seperti kami. Apalagi jika hingga menjelang malam, kami tak menemukan satu beritapun yang layak menjadi headline alias layak jual. Biasanya kamipun mengharap "berita dari langit" alias peristiwa besar yang tiba-tiba saja terjadi.
Seperti Rabu (8/8) malam, tak ada satu pun berita besar yang bisa menjadi berita utama. Hampir semua awak Persda Network di Jakarta yang menjadi tempat bergantung berita nasional dan situs-situs berita seperti detikcom dan kantor berita ANTARA, semua mengulas Pilkada DKI. Meski secara nasional menjadi berita besar, tapi untuk konsumsi masyarakat Kepri, berita tersebut jelas bukan berita menarik. Kalaupun orang ingin tahu, hanya sebatas siapa yang terpilih sebagai gubernur. Yang lain, hampir dipastikan tak akan menarik perhatian pembaca. Sampai menjelang tengah malam ketika halaman satu hampir siap dicetak, sebuah "berita dari langit" datang. Gempa melanda pulau Jawa. Dari Yogyakarta, Bandung hingga Jakarta, ratusan orang panik setelah goncangan berskala 7.2 richter membuat tidur malam mereka berubah menjadi mimpi buruk.
Meski dari aspek kedekatan, lokasi gempa memang berada jauh dari Kepri, tapi dari sisi imbas kepada pembaca, berita gempa lebih "berbunyi" dibanding berita tentang Pilkada Gubernur Jakarta. Kenyataan bahwa mayoritas masyarakat Kepri adalah pendatang termasuk dari pulau Jawa, membuat berita gempa tetap akan lebih menarik minat pembaca untuk mengetahui kejadian tersebut secara lebih detail.
Begitulah! Ini bukan kali pertama, kami "diuntungkan" dengan berita dari langit seperti yang terjadi semalam. Sebelumnya, peristiwa yang terjadi menjelang malam seperti pesawat Lion Air yang tergelincir di Solo, bencana longsor di Banjarnegara, Adam Air yang hilang bersama ratusan penumpangnya di Sulawesi dan hingga kini tak ditemukan, pesawat Heli yang jatuh di Wonosobo dan sebagainya, juga menjadi berita yang jatuh dari langit bagi pekerja media seperti kami. Sayangnya bagi semua orang, berita dari langit itu adalah kabar duka yang selalu berkisah tentang cerita sedih atau kematian!(*)

01 August 2007

Macet lagi...



Kalau di daerah lain, masyarakatnya mungkin saja akan antusias menyambut kedatangan para pejabat pusat yang datang berkunjung, tampaknya hal itu tidak berlaku bagi masyakarat Batam. Bahkan meski yang datang menteri, wakil presiden atau bahkan presiden sekalipun.
Selain sering (karena hampir tiap bulan selalu saja ada yang datang ke pulau Batam), kedatangan para pejabat ini sering dianggap masyakat jadi...maaf...biang keladi penghambat mobilitas mereka di jalan raya.
Seperti hari ini, H-1 menjelang kedatangan wapres untuk membuka forum tahunan pertemuan gubernur seluruh Indonesia. Jalan-jalan protokol sudah dipenuhi para personil paspamres, polisi, personil TNI, Polisi Militer, lengkap dengan senjata masing-masing. Sejumlah perempatan yang dianggap rawan macet sudah disterilkan sehingga tak ada pilihan lain kecuali melewati jalan memutar yang berarti makin jauh dan lama.
Yang tak kalah menyebalkan dan membuat pengguna jalan mengumpat adalah aktivitas penambalan jalan berlubang (yang memang ada dimana-mana) menjelang kedatangan mereka ke Batam beberapa hari sebelumnya. Dilakukan sepanjang hari dan terkadang hampir menutup seluruh badan jalan, bagaimana mungkin antrian kendaraan tidak terjadi? Macet dimana-mana sudah pasti.
Belum lagi saat sang pejabat benar-benar datang. Praktis jalan yang terkadang menjadi akses satu-satunya menuju ke tempat kerja atau tempat usaha, tidak bisa dilewati dan mereka harus rela menunggu sampai rombongan yang jumlahnya berpuluh-puluh mobil lewat. Kalau sudah begini, bagaimana masyarakat antusias menyambut mereka?(*)