16 February 2008

Akhirnya Bisa Bikin Cerpen Lagi

Sudah hampir setahun ini, nggak pernah bikin cerpen lagi. Hmm...kok bisa ya? Padahal tiap hari di depan komputer dan punya waktu cukup banyak untuk sekadar menulis satu dua cerita pendek seperti dulu.
Tapi...entahlah. Sepertinya rasa males berhasil "mematikan" ide-ide membuat tulisan fiksi itu. Untungnya beberapa hari lalu, berhasil juga menyelesaikan satu cerita pendek. Iseng-iseng juga coba kirim ke sebuah tabloid ibukota. Cuma hingga hari ini belum ada kepastian...

Mirah

Namanya Sumirah. Tapi orang-orang yang mengenalnya biasa memanggil dengan sebutan Mirah saja. Umurnya kira-kira 30 tahun. Masih muda seharusnya. Tapi tubuhnya yang kurus dan kering membuatnya ia terlihat lebih tua dari umur sebenarnya. Garis-garis wajahnya juga terlihat menonjol di antara sisa kecantikan yang kian berpendar karena penampilan kumuhnya. Baju compang- camping, rambut pendek kekuningan terbakar matahari dan sepasang sandal berbeda warna dan bentuk. Kian membuatnya lekat dengan sebutan wanita gila.
Aku jelas tidak mengenalnya karena aku hanya melihat wajahnya dari kejauhan tiap angkot yang kutumpangi melintas di perempatan dekat sebuah hotel berbintang empat di kotaku.
Tapi kebiasaannya yang selalu mengendong sebuah boneka kumal sambil mulutnya terlihat komat- kamit, membuatku penasaran dengan Mirah.
Nama itupun aku tahu saat iseng kutanya pada seorang ibu penjual rokok di halte tempat angkotku biasanya menurunkan penumpangnya, termasuk aku. Tak jauh dari tempat Mirah biasanya berdiri mondar-mandir sambil mengayun-ayun boneka kumalnya.
"Dia dulu itu punya anak. Masih kecil sih belum genap setahun. Orang masih merangkak gitu. Tapi anaknya hilang nggak tahu kemana,''kata si ibu penjual rokok saat pertama kali kutanyakan tentang Mirah.
"Kok bisa hilang? Diculik atau bagaimana?''tanyaku masih penasaran.
"Ya nggak tahu, katanya sih waktu itu si Mirah lagi mandi. Suaminya udah pergi ngojek. Tapi pas Mirahnya selesai, anaknya udah nggak ada lagi.''
Aku terdiam sejenak. Sebagai seorang ibu yang juga memiliki putri cilik, aku jelas bisa merasakan kepanikan Mirah waktu itu.
"Katanya udah dicari kemana aja, bu?"tanyaku lagi.
"Udah kemana-mana, seluruh rumah liar di dekat rumah dia itu, sampai ke ujung-ujung sana. Udah lapor ke polisi juga sampai nempel-nempel foto anaknya di pohon-pohon, di halte. Disebar kemana aja, tapi nggak ada hasil,''cetus si ibu sambil tetap menata dagangannya.
Entah apa dia suka dengan caraku yang terus bertanya tentang Mirah atau tidak, aku memang sangat ingin mengetahui kisah perempuan bertubuh ceking di dekat halte itu yang selalu kulihat tiap hari dengan boneka kumalnya.
"Terus suaminya kemana bu? Kok dia jadi seperti itu," selidikku lagi.
"Suaminya udah pergi lah. Katanya udah kawin sama perempuan lain. Habisnya gimana, kalau punya istri stres. Suaminya nyalahin dia juga sih. Dibilangnya dia nggak becus ngurus anak setelah anak mereka itu hilang. Makanya si Mirah tiap hari nangis aja dan jerit-jerit nggak mau ngurus suaminya lagi. Kabur lah dia,''kata si ibu dengan nada agak keras. Kali ini raut wajahnya mulai menunjukkan ketidaksukaannya karena aku terus bertanya tentang Mirah.
Aku tentu saja menyadari keadaan itu. Buru-buru aku berpermisi kepadanya dan melanjutkan perjalananku dengan angkot berikutnya ke arah kantorku.
Cerita tentang Mirah mulai tersusun satu persatu di benakku. Aku mulai sedikit menemukan titik terang mengapa ia menjadi seperti itu. Ia pasti tertekan dan sangat sedih karena kehilangan buah hatinya. Dan ia merasa bahwa dialah yang menjadi penyebab anaknya hilang. Mungkin ia didera perasaan bersalah sepanjang hidupnya dan menganggap ia bukan ibu yang bertanggung jawab. Apalagi ternyata sang suami, yang seharusnya menjadi tempatnya berbagi dan mencurahkan perasaannya, justru menyalahkan dirinya dan bahkan pergi meninggalkan Mirah.

***

Pagi itu langit sedikit mendung. Sejak dua hari lalu aku sudah menyiapkan beberapa bajuku yang sudah lama tak kupakai lagi. Sebagian karena tidak muat lagi di badanku yang kian melar usai aku melahirkan dua tahun lalu. Sebagian lagi karena aku tidak begitu suka dengan modelnya. Baju-baju itu sudah beberapa tahun teronggok begitu saja di sudut lemari pakaian. Dan entah mengapa pikiranku langsung melayang pada Mirah saat aku bersih-bersih lemariku dua hari lalu.
Daripada diberikan kepada pemulung yang sering lewat di depan rumah, mengapa tak kuberikan saja pada Mirah?
"Nanti kalau dia malah ngamuk-ngamuk gimana?"tanya mas Cahya, suamiku, saat kuutarakan keinginanku memberikan baju pantas pakai ini pada Mirah. Aku memang pernah menceritakan perihal Mirah pada mas Cahya.
"Masak sih ngamuk? Aku kan aku mau berbuat baik. Semuanya tergantung caranya, kalau ngasihnya baik-baik, kayaknya dia nggak bakal marah deh,''ujarku memberi alasan.
"Ya terserah sih, tapi jangan teriak-teriak di HP ya kalau nanti dia benar-benar ngamuk dan ngejar- ngejar kamu,''goda mas Cahya sambil tersenyum kala itu.
Dan pagi ini aku sudah bersiap dengan dua buah tas plastik berukuran cukup besar.
Satu kantong berisi beberapa botol susu dalam kemasan dan beberapa jenis makanan kecil seperti roti, biskuit, kacang-kacangan dan cracker.
Satu kantong lagi yang lebih besar ukurannya, berisi baju-baju, celana panjang, beberapa pakaian dalam, sebuah handuk dan tentu saja kain kecil untuk mengganti kain panjang yang dia pakai mengendong boneka kumalnya dan sebuah payung baru yang belum lama kubeli dan belum sempat kugunakan. Ya...aku ingin Mirah memakai payung itu agar ia tak kepanasan atau kehujanan seperti yang sering aku lihat.
Aku juga menyelipkan beberapa helai baju bayi milik anak bungsuku. Entah untuk apa baju itu, tapi aku merasa Mirah akan bahagia melihat baju-baju mungil itu nanti.
Sherin, anak sulungku, sempat curiga dengan bawaan tak biasa yang aku bawa pagi itu.
"Mama mau kemana sih? Mau ada acara ya di kantor? Kok bawa baju adik segala? Itu juga bawa makanan, buat apa sih, Ma?''berondong Sherin saat mengetahui aku akan pergi kerja dengan bawaan yang tidak biasanya
"Nggak ada apa-apa, nak. Mama cuma mau kasih ke orang. Kasihan dia nggak ada baju bagus dan nggak punya makanan,'"jelasku pada Sherin.
"Memangnya orang itu ada di kantor Mama?" tanyanya lagi.
"Kebetulan Mama lewat, jadi sekalian nanti mampir sebelum Mama ke kantor,''sahutku sambil merapikan kerudung pink muda yang kukenakan.
Kulihat anak perempuanku itu hanya manggut-manggut. Tampaknya ia cukup puas dengan jawabanku atas beberapa pertanyaannya.
Meski bersikap santai, sejujurnya jantungku berdegup kencang. Perasaan ingin segera memberikan dua tas itu pada Mirah bercampur dengan perasaan gugup dan khawatir. Bagaimana jika nanti Mirah benar-benar marah dan mengamuk seperti yang dikatakan suamiku? Apa yang harus aku lakukan jika itu terjadi? Berlari sambil membawa tas-tas plastik itu atau meninggalkannya di dekat Mirah sambil mengambil langkah seribu. Entahlah!
Tapi jantungku memang makin berdegup kencang ketika angkot langgananku makin mendekati halte pemberhentian, tak jauh dari Mirah biasa berdiri. Meski sudah kusiapkan hatiku dengan banyak berdzikir di sepanjang jalan, tanganku tetap terasa dingin. Ah...aku belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. Bahkan ketika mas Cahya mengungkapkan si hatinya padaku atau ketika kami menikah sepuluh tahun lalu, aku bahkan tak merasakan degup jantung sekeras ini.
Kulihat Mirah berdiri di dekat halte itu seperti biasanya. Gerimis rintik yang mulai turun membuatnya basah. Seperti biasa dia tetap mengendong boneka kumalnya.
Lamat-lamat kudengar ia melantukan sebuah tembang yang ia dendangkan dengan bibir keringnya.
Tak lelo...lelo...lelo...ledung... cup menenga aja pijer nangis...anakku sing ayu rupane
nek nangis ndak ilang ayune...tak gadang bisa urip mulyo...dadiyo wanito utomo...
ngluhurke asmane wong tua...(*)
Langkahku terhenti beberapa saat. Seolah ada sebuah kekuatan, aku tak lagi merasa gugup. Aku tak lagi merasa takut untuk mendekati Mirah yang masih tetap berdendang sambil mengayun-ayun boneka kumalnya.
Kuulurkan dua tas plastik setelah aku berada cukup dekat dengannya. Sejenak ia terdiam. Ia tak lagi berdendang. Mata menerawang. Tidak memandang aku.
"Ini untuk kamu Mirah, ada baju dan makanan. Semua buat kamu,''kataku sambil meletakkan dua kantong plastik itu.
Mirah masih terdiam. Dia tidak berkata-kata, apalagi mengamuk seperti yang aku bayangkan.
Kulihat beberapa pejalan kaki dan pengemudi yang sempat melintas di dekat perempatan itu menatap aku dengan pandangan penuh tanda tanya. Tapi aku tidak peduli.
Tiba-tiba Mirah duduk berjongkok. Diraihnya dua tas plastik itu. Tangannya mulai membuka satu persatu barang-barang yang ada di dalamnya. Tatapannya beralih kepadaku seakan ingin meminta kepastian lagi apakah aku sungguh-sungguh memberikannya.
"Ya Mirah...semua ini untuk kamu. Kamu suka kan?" tanyaku lagi.
Kali ini Mirah mengangguk. Bahkan seulas senyum terlihat di wajahnya. Aku terharu. Berjanji dalam hati bahwa besok aku akan membawakannya lagi makanan karena ia senang dengan pemberianku.
"Besok saya bawa lagi makanan ya? Tapi semuanya harus kamu habiskan biar kamu sehat,''kataku sambil menatapnya.
Mirah mengangguk. Kali ini dia tersenyum lagi.
"Terima kasih,''ucapnya pelan sebelum aku berlalu.

***

Hujan yang mengguyur kotaku sejak semalam tak menyurutkan langkahku untuk membawa beberapa bungkusan makanan lagi untuk Mirah. Sambil berjinjit dengan ujung celana panjang yang sengaja kugulung, aku sudah bersiap memberi Mirah nasi uduk, beberapa potong roti tawar berisi selai coklat dan sekantong jeruk manis yang aku beli di dekat rumah.
Angkot yang membawaku seolah berjalan terseok-seok menerobos jalanan kota yang mulai tergenang air karena hujan semalaman.
Tak lama lagi aku sampai diperempatan itu dan berharap Mirah ada di sana sambil membawa payung yang kubawakan padanya kemarin. Namun dari kejauhan aku melihat sesosok tubuh mirip Mirah dengan boneka kumal digendongannya berlari menerobos hujan yang makin lebat. Ia berlari makin kencang, menyeberang jalan raya tanpa memperdulikan sebuah truk sampah yang juga melaju kencang di dekat perempatan itu.
"Itu anakku....Gendhis ini ibu nak. Kemari nak. Ibu kangen kamu...Gendhis jangan pergi nduk (*)..Ini ibu...''teriaknya sambil berlari ke arah jalan raya. Ia terus berlari. Aku tak sempat memintanya berhenti. Tapi kakiku seperti terpasung saat kulihat tubuh kurus Mirah melayang dan kemudian terjatuh di atas aspal basah. Truk sampah itu terus melaju setelah ia menabrak Mirah. Membiarkan Mirah mati sendirian dengan iringan tangisku di tengah jalan pagi itu.(*)

Batam, Februari 2008

* Tak lelo...lelo...lelo ledung
diamlah anakku jangan menangis saja
anakku yang berwajah cantik
aku harapkan kelak bisa hidup mulia
jadilah wanita yang mulia
dan membawa nama baik orangtuanya

Lagu dari daerah Jawa yang biasa didendangkan untuk menidurkan anak kecil

*nduk: panggilan sayang untuk anak perempuan

Obat Cengeng Ajaib...


Semakin besar, adik Shaki yang bentar lagi ultah kedua, ternyata justru makin cengeng. Sedikit-sedikit merengek dan menangis. Malah jika tak ada satupun orang rumah yang memperhatikan tangisannya, ia tak segan melempar mainan atau benda apapun yang ada di dekatnya sambil berteriak-teriak. Aduh!
Dulu sih kami senang-senang saja melihat tingkah adik dan bahkan menganggap kebiasaannya itu sebagai sebuah hal yang lucu. Apalagi ayah dan kak Naomi justru sering menggoda dan membuat tangisan adik makin kencang.
Tapi lama-lama kami terganggu juga dengan gaya tangisan dia yang kadang terkesan dibuat-buat untuk mencari perhatian. Apalagi biasanya ia meminta perhatian ketika kami semua sedang sibuk.
"Aduh dek, jangan ganggu kakak dong. Kakak kan lagi belajar. Mamaaa...Ayah...adek nih! Naomi kan lagi belajar,"begitu kakaknya sering berteriak dari kamar tiap si adik datang menganggu.
Kalau sudah begitu, biasanya si adik langsung menangis sambil mengatakan kata-kata yang kami sendiri tak paham maksudnya. Setiap saya atau ayahnya mendekat dan membujuknya agar ia tak menganggu, justru adik marah sambil tangannya memukul-mukul wajah atau tangan kami.
"Ayah.. nggak au...itu Mimi...,''ucapnya tak jelas sambil menangis. Ia memang biasa menyebut kakaknya dengan panggilan Mimi.
"Adik nggak boleh ganggu ya, Kakak Naomi kan lagi belajar. Nanti kalau kakak sudah selesai, baru main sama lagi. Boleh ya?'' bujuk ayahnya tiap si adik mulai usil.
Sayangnya bujuk rayu ayahnya atau saya sering tak mempan juga meski kami sudah melakukan berbagai cara. Justru tangisnya makin kencang dan menjadi. Kalau sudah begini, biasanya kami biarkan dia menangis dan baru berhenti setelah adik merasa kecapekkan. Kasihan juga sebenarnya.
Yang lebih parah lagi, tangisan dia yang melengking itu juga tak bisa dihentikan ketika tengah malam kami terlambat membuatkan susu botol. Padahal saya sudah berupaya agar susu bisa cepat dibuat. Tiap malam, sengaja kami sudah siapkan tiga botol sekaligus berisi air hangat. Ketiganya saya letakkan tak jauh dari adik sehingga mudah saya jangkau kalau malam dia terbangun minta susu. Pokoknya tinggal tuangkan susu bubuk dan kocok saja. Praktis kan?
Tapi ya itu tadi, entah karena adik yang tidak sabar atau bawaan dia yang cengeng. Terlambat sedikit saja, sudah pasti dia menangis sambil melempar botol susu yang sebenarnya sudah siap dia minum. Weleh!
Kalau sudah begini biasanya saya bawa dia ke luar kamar sambil diayun-ayun di gendongan hingga dia tertidur dengan botol susunya. Capek juga sih kalau tiap malam harus seperti itu, apalagi juga tetangga sebelah pasti terganggu.
Sampai pada suatu hari, secara tidak sengaja ternyata si Kakak berhasil menemukan "obat" jitu untuk menghentikan tangisan adik. Kala itu, dia sedang asyik bermain games di ponsel saya dan seperti biasanya, adik datang menganggu. Mereka berebut ponsel dan berujung dengan tangisan si adik. Yah...begitulah! Dan entah karena lagi iseng atau apa, diam-diam si kakak merekam suara tangisan adiknya lewat fasilitas recording yang ada di dalam ponsel. Tak lama kemudian suara tangisan itu diputar lagi. Lucunya, adik yang sedang menangis meraung-raung langsung berhenti. Malah dia langsung tertawa-tawa mendengar rekaman itu dan seolah lupa bahwa dia baru saja menangis menjerit-jerit.
"Mama...Naomi sudah menemukan obat ajaib biar adik nggak cengeng lagi,"cetus anak sulung saya kegirangan.
"Kok kakak tahu caranya, siapa yang ngajarin?''tanya saya ketika itu. Sekadar ingin tahu pasti.
"Ya iseng aja. Tadi kan adik nggak berhenti-henti nangisnya makanya Naomi rekam. Pas dia dengerin lagi suaranya, ia langsung berhenti nangis. Malahan ketawa-tawa gitu,"ujar kakaknya senang.
Sejak saat itu tiap adik menangis, kami cepat-cepat mengambil ponsel dan memutar rekaman tangisannya. Dijamin dia langsung berhenti menangis dan tertawa kegirangan. Rasanya kini kami tak perlu lagi merasa sungkan dengan tetangga karena kami telah menemukan obat cengeng ajaib untuk adik.(*)

19 January 2008

IKLAN JADOEL...

Beberapa hari lalu dapat kiriman e-mail iseng dari Ayah. Isinya tentang iklan lowongan pekerjaan zaman Belanda doeloe. Menariknya karena diiklan terbitan tahun 1889 tersebut, Batam ikut disebut-sebut. Wah...berarti sudah tua juga ya pulau ini? Tapi yang jadi seru sih, kalau tiba-tiba ada koran zaman sekarang dan memasang iklan dengan gaya seperti ini, gimana ya reaksi pembacanya? Lucu kali ya secara bunyi iklannya seperti ini nih:

PENGOEMOEMAN !!!
DAG INLANDER,... ..HAJOO UR ANG MELAJOE,...KOWE MAHU KERDJA???
GOVERNEMENT NEDERLANDSCH INDIE PERLU KOWE OENTOEK DJADI BOEDAK
ATAOE TJENTENK DI PERKEBOENAN- PERKEBOENAN ONDERNEMING
KEPOENJAAN GOVERNEMENT NEDERLANDSCH
INDIE DJIKA KOWE POENYA SJARAT DAN NJALI
BERIKOET:
1. Kowe poenja tangan koeat dan beroerat
2. Kowe poenja njali gede
3. Kowe poenja moeka kasar
4. Kowe poenja tinggal di wilajah Nederlandsch Indie
5. Kowe boekan kerabat dekat pemberontak- pemberontak
ataoepoen maling ataoepoen mereka jang soedah diberantas
liwat actie politioneel.
6. Kowe beloem djadi boedak nederlander ataoepoen ondernemer ataoe toean tanah ataoe baron eropah.
7. Kowe maoe bekerdja radjin dan netjes.

KOWE INLANDER PERLOE DAT ANG KE RAWA SENAJAN DISANA KOWE HAROES DIPILIH LIWAT DJOERI-DJOERI J ANG
BERTOEGAS :
1. Keliling rawa Senajan 3 kali
2. Angkat badan liwat 30 kali
3. Angkat peroet liwat 30 kali

Kowe mesti ketemoe Mevrouw Shanti, Meneer Tomo en Meneer Atmadjaja Kowe nanti akan didjadikan
tjentenk oentoek di Toba, Buleleng, Borneo, Tanamera, Batam, Soerabaja, Batavia en Riaoeeiland.

Governement Nederlandsch Indie memberi oepah :
1. Makan 3 kali perhari dengan beras poetih dari Bangil
2. Istirahat siang 1 uur.
3.Oepah dipotong padjak Governement 40 percent oentoek wang
djago. Haastig kalaoe kowe mahoe..

Pertanggal 31 Maart 1889 Niet
Laat te Zijn Hoor.. Batavia 1889 Onder de naam van
Nederlandsch Indie Governor Generaal H.M.S Van den Bergh S.J.J
de Gooij


( Iklan ini benar-benar asli kutipan dari koran bertahun 1889 diambil di perpustakaan nasional )

08 January 2008

Paranormal Kecil


Tadi pagi terima SMS dari Bunda Nea. Dia menceritakan beberapa hari lalu ada wartawan sebuah media mistis yang mewawancarai Sheva (anak Bunda, sepupu Naomi dan Shaki) dan memuatnya di salah satu rubrik di media tersebut.
"Dikiranya cuma tanya-tanya, nggak taunya dimuat beneran lho,"tulis Bunda di SMS-nya.
Sejak mulai bisa berjalan dan ngomong, Sheva memang sering dipergoki Bunda dan ayahnya, pak Maula Asadillah, seperti sedang ngobrol dengan seseorang.
Percaya atau tidak, Sheva kecil mengaku punya teman kasat mata yang disebutnya Duna. Kadang di depan pintu atau di sudut rumah yang lain, Sheva kedapatan sedang ngobrol dengan si Duna.
"Ibu...tuh Duna datang,"katanya pada Bunda tiap si Duna datang.
Iseng-iseng Bunda pernah bertanya (siang-siang pasti) pada Sheva, seperti apa wujud si Duna itu.
"Kecil, terus dia gundul dan nggak pakai baju,"jawab Sheva kala itu sambil tertawa. Jadi...seperti tuyulkah Duna? Entahlah.
Yang paling horor sih pas suatu malam, kebetulan pak Maula ada liputan (secara wartawan juga si bapak ini), Sheva colak-colek ibunya.
"Bu..Duna datang sama ibunya tuh,"kata Sheva sambil menunjuk pintu rumah mereka yang memang bersebelahan dengan kuburan tua.
Awalnya Bunda Nea mencoba bersikap tenang.
"Ibunya kayak apa, Va,"katanya sedikit gemetaran pasti.
"Pakai baju putih, rambutnya panjang. Duna dituntun sama ibunya. Tuh mereka mau kesini,"kata Sheva polos.
Tanpa dikomando, Bunda Nea tentu saja mak tratapan alias deg-degan luar biasa.
"Suruh mereka pulang,nak. Bilang sudah malam ya. Nggak usah kesini,"kata Bunda keringatan.
Dengan gaya seperti biasa, Sheva pun menyuruh "teman"nya itu pulang sambil tak lupa mengatakan:"nanti kesini lagi ya?" Hiii....
Usut punya usut dari cerita Bunda, kakek Sheva yang di Cirebon juga ternyata bisa melihat "mahluk-mahluk halus" yang umumnya suka tinggal di tempat gelap. Kalau kata beberapa orang pintar, the six sense seseorang itu memang bisa didapat karena faktor keturunan.
Mungkin Sheva juga diberi kelebihan Allah SWT melihat hal-hal kasat mata yang tidak tiap orang memilikinya.
"Sejauh ini Sheva nggak pernah melihat mahluk yang buat dia menakutkan. Tapi moga-moga sih jangan sampai, takutnya dia ketakutan dan kami nggak bisa menolong,"cerita Bunda Nea waktu kita bertemu lebaran kemarin.
Harapan seorang ibu tentu saja...(*)

26 December 2007

Tribun Family Day











Ini foto-foto saat Tribun Family Day 24 Desember 2007 di Batam View Hotel Nongsa. Meski lokasi, gaya permainan dan menu makanan yang disajikan masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya (secara tempatnya memang nggak pindah-pindah he..he..he), ramai juga sih.
Sayang Ayah nggak bisa ikut karena harus kerja dan Mama terpaksa mengurus Kakak Naomi (yang keasyikan di laut sampai ketinggalan waktu makan di Kelong Resto Seafood dan nggak sempat difoto) dan adik Shaki yang juga nggak mau diangkat ke daratan. Capek deh!(Sepertinya tahun depan Ayah harus ambil cuti nih biar repotnya ada teman!)
Pas pembagian door prize, inginnya dapat oven atau gitar Yamaha untuk Ayah eh...dapatnya kamera film merek Fuji. Langsung deh dapat komentar seragam teman-teman sekantor: "Jaman udah canggih gini mbak, masih pakai kamera film? Please deh!" Ha...ha...ha pada sirik kali ya karena nggak dapat hadiah juga mereka. Tapi kalau dipikir-pikir, tiap tahun Mama kok selalu dapat hadiah yang useless gitu ya dari kantor(ups sorry!) Tahun lalu dapat lampu hias, tapi bentuknya itu lho. Nggak matching banget di pasang di tembok. Tahun sebelumnya juga cuma dapat bantal kecil bertuliskan sebuah nama operator selular yang kini cuma ngendon di kamar kakak. Secara warnanya kuning gitu lho!
Tapi mungkin disyukuri saja deh. Siapa tahu tahun depan bisa dapat hadiah-hadiah lain yang lebih berguna. Amien!

22 December 2007

Bike to Work...Really!



Akhirnya ayah benar-benar menepati janjinya untuk pergi bekerja dengan sepeda. Meski baru seminggu sekali (tiap hari Sabtu), setidaknya ayah ingin membuktikan bahwa ia tak cuma punya keinginan saja.
Selain hari Sabtu, tiap Minggu bersama dengan member dari Batam Mountain Bike Club dan Bikers dari PT AIT di Mukakuning, mereka selalu bersepeda hingga menempuh jarak puluhan kilometer. Kadang berangkat setelah sholat Subuh dan baru pulang setelah Dzuhur.
Jangan bayangkan seperti apa sepeda dan baju ayah tiap tiba dari bersepeda. Elis (yang bantu di rumah) saja perlu merendam hingga tiga hari biar lumpur dan aneka kotoran yang menempel bisa hilang.
Terakhir ini, para gowes (begitu mereka mengistilahkan kelompok mereka), siap-siap menyambut old and new year dengan bersepeda hingga ujung Jembatan Barelang yang jaraknya hmmm...jangan dibayangkan. Sedang dengan mobil saja (kecepatan agak ngebut), orang butuh satu jam lebih untuk sampai di lokasi tersebut.
"Daripada bikin acara mubazir, ini kan hemat dan sehat. Bisa ngilangin stress lagi,"alasan Ayah sewaktu meminta izin.
So far Mama sih oke-oke saja. Secara bersepeda memang makin membuat Ayah nggak banyak keluhan di badannya. Berat badan juga turun. Kalau dulu sudah mau mencapai 90 kg, sekarang hampir mendekati 80 kg.
"Kan nggak perlu fitness lagi untuk sementara waktu. Olahraga yang gratis aja dulu, tapi enjoy. Pokoknya prinsip hemat dan sehat,"kata Ayah lagi.
Ya deh...sok atuh...monggo saja!

12 November 2007

Belajar jadi pedagang




Setahun belakangan ini ayah lagi semangat banget belajar berjualan alias bisnis kecil-kecilan. Sepertinya sih setelah ikut seminar entrepreneurship-nya Purdi E Chandra yang punya Primagama. Sampai-sampai ayah geregetan banget ingin cepat-cepat punya bisnis sendiri yang bisa menghasilkan. Cuma sampai sekarang masih juga belum ketemu bisnis apa yang benar-benar cocok. Sudah coba-coba sih melirik sana-sini, tapi belum 100 persen berani menentukan.
Sejauh ini baru mencoba menjadi "distributor" untuk beberapa barang seperti boneka muslim Arrosa (ada tuh fotonya), bed cover (ada juga kan fotonya), jaket kulit, sandal super awet yang dibuat dari bekas ban mobil (yang ini asli handmade dari kampung halaman ayah di daerah Banyumas), jaket kulit dari Bandung, tas anyaman, kalung manik dari Bali dan beberapa jenis barang lainnya.
Ayah juga mulai coba-coba promosi barang-barang itu di blog miliknya (cuma sih sampai sekarang masih di under construction, biar mantap dulu katanya).
Mungkin karena ayah merasa, suatu saat nanti harus menjadi orang yang mandiri dan nggak selamanya menjadi "buruh" yang kadang nggak bisa menentukan sikap sendiri karena harus patuh pada aturan perusahaan.(*)